PANTAS : Tulisan Tanggapan
Tulisan Tanggapan atas Artikel berjudul “Manusia yang Layak Disebut Manusia” ditulis oleh Azmi Syahputra dalam Situs Kompasiana dengan sumber tautan yakni: https://www.kompasiana.com/www.azmisyahputra.blogspot.com/57b6c2a7369373ff105d3c10/manusia-yang-layak-disebut-manusia
Memahami diri adalah sebuah perilaku yang sulit dilakukan oleh seorang manusia baik untuk dirinya sendiri bahkan orang lain. Perbuatan memahami diri memiliki cakupan yang sangat luas seperti yang tertera dalam artikel yakni mengenali tujuan hidup, memilih keputusan yang tepat dan memiliki kesadaran penuh. Menjawab pertanyaan atas pemahaman diri sebetulnya tidak sulit mengingat manusia diberi ‘akal’ oleh yang Maha Pencipta. Bukan hanya akal sebetulnya, manusia pun dibekali oleh banyak kemudahan bahkan petunjuk atas pemahaman dirinya dalam tulisan-tulisan dari masa ke masa yang eksistensinya tidak diragukan seperti kitab suci. Oleh sebab itu, patutlah kita berkaca pada ayat-Nya untuk melakukan pemahaman diri.
Pemahaman diri adalah kunci sempurna untuk mengenal Pencipta sebab di dalam pemahaman diri terdapat bagian kesadaran yakni mengenal diri sebagai suatu ciptaan yang memiliki tujuan. Tujuan itu tidak lain adalah kembali kepada-Nya, sebagaimana yang tertuang dalam Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56 yakni “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.
Proses pemahaman diri yang dilakukan dalam setiap detik kehidupan tercermin melalui adanya karakter yang tergambar dalam fase hidup, misalnya remaja dengan potret pemberontak hingga orang dewasa yang kadang masih kekanak-kanakan. Setiap fase ini pada dasarnya menggambarkan pemahaman apa yang didapat manusia melalui pengalaman hidupnya itu sendiri. Pengalaman jelas adalah media dan sarana manusia untuk memahami seperti apa, ingin bagaimana, bahkan di titik mana tujuan hidupnya berada.
Sebagaimana yang tertera dalam artikel, tidak dapat kita pungkiri bahwa pengalaman dan dinamika kehidupan tidak mudah dilalui. Oleh sebab itu, hadirlah pendidikan dan lembaga pendidikan sebagai pilihan yang paling tepat untuk memahami dan mempelajari diri termasuk menambah potensi kekuatan peradaban dan seharusnya menjadi agen perubahan bangsa guna menjadi solutor terhadap hambatan-hambatan dalam pembangunan bangsa. Pendidikan hadir bukan sebagai jawaban tetapi sebagai media untuk menciptakan perubahan-perubahan dalam diri manusia itu sendiri. Meski demikian, penulis dalam artikelnya jelas menyatakan ‘semakin banyak sarjana hukum yang diwisuda setiap tahun, penegakan hukum negeri ini semakin meleyot-leyot…’ Betul, kontradiksi yang sangat memprihatinkan ini terjadi bukan tanpa sebab. Manusia dengan akal dan keilmuan saja tidaklah cukup untuk membuat perubahan.
Manusia yang dapat membuat perubahan atas diri, keluarga, bangsa, dan negaranya adalah manusia yang menyadari kesempurnaannya sebagai manusia. Kesempurnaan yang tidak hanya berbicara soal kecerdasan tetapi kesempurnaan yang mencakup adab, adil, dan tentunya arif. Layaknya sebuah bom waktu, seorang manusia dan kesempurnaannya dalam waktu yang telah dibatasi Tuhan sudah sepatutnya memberi dampak signifikan dalam roda kehidupannya sendiri dan memberi catatan yang baik dalam roda kehidupan orang lain di sekitarnya.
Menyadari dan kemudian mengambil tindakan atas kesempurnaan tersebut tidaklah mudah dilakukan oleh seorang manusia sebab kita dibayang-bayangi oleh musuh sekaligus kawan abadi yakni hawa nafsu. Hawa nafsu yang membuat manusia terkadang menanggalkan nilai-nilai kesempurnaan yang diberikan oleh Tuhan. Hawa nafsu yang membuat manusia lengah, saling membenci, saling bermusuhan, bahkan merusak satu sama lain. Berperang dengan hawa nafsu sekaligus memaafkan diri sendiri yang kerap terlena karenanya adalah tugas berat yang harus dipenuhi setiap manusia sepanjang hidupnya. Oleh sebab itu, “3B+” yang disampaikan oleh Bapak Azmi Syahputra dalam perkuliahan pembuka adalah langkah yang tepat untuk menyaring perbuatan-perbuatan manusia yang cenderung dibumbui oleh hawa nafsu.
“Baik, Benar, Bermanfaat, lalu Bijaksana”. Lihatlah dulu bagaimana perbuatan itu berdampak pada diri kita dan lingkungan. Apakah itu perbuatan baik? Apakah itu perbuatan yang benar dan boleh dilakukan? Apakah kemudian itu bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain? Sekaligus pertanyaan yang berfilsafat, bijaksanakan perbuatan itu kita lakukan?
Pembiasaan atas pola-pola pendidikan seperti 3B+ tentu tidak mungkin terjadi secara instan dan cepat. Pembelajaran dan pembiasaan tersebut haruslah dimulai dari lingkungan seperti keluarga, masyarakat, terutama sekolah/universitas sebagai lembaga pendidikan itu sendiri. Lingkungan tersebutlah yang pada dasarnya memberikan kesempatan bagi manusia untuk memahami dirinya dan mengenali potensi atas kesempurnaannya. Terlepas dari adanya pengaruh lingkungan, kesadaran dan kontrol atas diri sendirilah yang menentukan apa, siapa, dan bagaimana seorang manusia itu layak disebut sebagai manusia. Oleh karena itu, manusia yang berbuat baik dengan waktu, tubuh, ilmu, harta, dan kesempatan yang dimilikinya adalah manusia yang pantas disebut manusia.

