Sosok Dalam Cermin

Sosok Dalam Cermin

Berapa kali kamu bercermin dalam satu hari manusia? 

Berapa banyak pantulan sosok yang terlihat? 

Wajah yang terkadang senyum bahagia, kadang memuat raut haru, terkadang berisi kemarahan atau kesedihan. Banyak sekali sosok yang tinggal di sana. Di dalam tubuh, raga ini, ada jiwa yang memiliki banyak sekali wajah. 

Apakah itu tidak melelahkan? Tentunya sangat, kita adalah manifestasi dari rangkaian kejadian yang terjadi. Semua sama dan tidak ada yang spesial. Semua dilakukan untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Pencipta. 

Apakah salah jika kita sesekali ‘salah’? tentu tidak. Kita tidak diciptakan hanya untuk patuh dan menjadi sempurna. Kita diciptakan dengan akal. Kita bertindak dengannya. Akal pun tak sendirian, ada nafsu, hasrat, dan nurani semua berada di dalam raga ini. Yang diminta sederhana, tapi semua terlalu kompleks untuk manusia sepeti kita. Yang pada akhirnya hanya bisa berupaya yang terbaik untuk dirinya, hidupnya. 

Uang, jabatan, kekuasaan, pasangan semua adalah hal semu yang pada akhirnya menjadi urusan yang fana. Tidak dibawa hingga nanti. Tidak dibawa hingga tua. Tidak dibawa ketika sakit. Tidak dibawa ketika menderita. 

Kita hanyalah manusia. Yang kita butuhkan adalah kedamaian. Kedamaian yang sangat mahal harganya karena sepertinya tidak banyak yang mampu memiliki atau membelinya. Kedamaian dalam diri yang terserut menjadi ketenangan batin, kehalusan bertutur, kebaikan perilaku, kerendahan hati, kemurahan terhadap sesama, sungguh kedamaian memang tidak ada duanya

Meski sulit dicapai, coba beri ketenangan sedikit untuk hati dan pikiranmu itu. Mereka cukup lelah bertemu banyak manusia dan berhadapan dengan egonya. Mereka lelah ketika kau paksakan untuk melakukan sesuatu yang tidak kau sukai atau sesuatu yang harus dilakukan tapi bertentangan dengan nurani. Mereka lelah dengan dirimu yang selalu tersenyum dengan khalayak tapi memendam letih, amarah, dan kesedihan saat bersama yang terkasih. Mereka lelah dengan dirimu yang selalu berupaya memberi sesuatu kepada orang yang tak tepat. Mereka lelah kau berekspektasi tinggi dengan dirimu sendiri, yang biasa saja. Mereka lelah dengan kau yang berekspektasi tinggi bahwa manusia lain menyukai dan menginginkanmu. Mereka lelah dengan semua sandiwara dan kenyataan yang kau rajut menjadi keseharian itu. Mereka sangat lelah. 

Mereka butuh dirimu yang tenang, dirimu yang damai, dirimu yang penuh energi baik tetapi bukan yang kau paksakan, dirimu yang mengeluarkan energi negatif saat itu memang diperlukan. Mereka tak butuh kau sempurna, mereka butuh kau beristirahat sesekali, dengan cara yang paling kau sukai. Menyindiri, membaca, menulis, dan berkeluh kesah dengan Pencipta. Mereka sangat butuh itu. 

Kau yang paling tau apa yang mereka butuhkan tetapi kau selalu menjadi orang yang paling tidak perduli. Kau bilang kau menjadi prioritas untuk dirimu sendiri, tetapi kau selalu memberi kepada orang yang salah dengan dalil bahwa dengan kebahagian mereka maka kau bahagia. 

Tidak ada yang namanya kebahagiaan dalam diri yang berasal dari luar dirimu. Kau melakukan kesalahan berfikir. Kalaupun ada, itu hanya kebahagiaan semu yang kau ciptakan untuk melindungi dirimu sendiri, menjaganya agar selalu naif dan baik kepada orang-orang di sana. Kebahagiaan dalam dirimu hilang bersama hilangnya jati dirimu. Dirimu yang sangat kau kenal dan sangat kau rindukan. Sosok yang penyayang bagi dirinya sendiri. Sosok yang memberi pelukan hangat ketika dirinya berhasil akan sesuatu. Sosok yang selalu bangga dengan pencapaiannya. Sosok yang juga rendah hati dan senang memberi. Sosok yang penuh empati dan rasa cinta di antara binar-binar matanya. Jadi berapa kalipun kau bercermin, sosok itulah yang kau rindukan, yang kau inginkan kembali kehadirannya.

Cari dirinya untukku agar kita semua menjadi damai, menjadi bahagia, menjadi penuh. Kau membutuhkan itu, kau menginginkan itu.

Postingan Populer